Pandemi COVID-19 telah menyebabkan kerusakan ekonomi yang serius di seluruh dunia. Korban pandemi terbesar tetapi sering tidak terucapkan adalah bisnis. Bisnis – yang dulu hidup dengan paradigma “satu-satunya tanggung jawab sosial bisnis adalah menghasilkan keuntungan” – hingga saat ini mulai menyadari bahwa prioritas mereka harus berubah jika spesies manusia dan planet ini ingin bertahan dalam jangka panjang. Pandemi ini menyingkapkan kerentanan kapitalisme neoliberal yang menetes-netes, yang coba disampaikan oleh banyak gerakan sosial, dari Occupy Wall Street, Indignados, hingga Extinction Rebellion ke dunia bisnis. Pesan yang jelas dari pandemi ini adalah bahwa bisnis harus merangkul paradigma baru yang menjaga keseimbangan yang baik dalam mencapai tujuan layanan publik, lingkungan, dan komersial. “Nilai pemegang saham” dapat dan harus memberi jalan pada “nilai publik dan lingkungan” sebagai alasan keberadaan bisnis.

Apa gunanya menciptakan kekayaan melalui bisnis ketika krisis kesehatan, lingkungan dan sosial dapat dengan mudah membuat bisnis gulung tikar dalam beberapa minggu, seperti yang telah kita saksikan di banyak negara baru-baru ini? Fokus jangka pendek dalam mengukur kinerja perusahaan dan kepala eksekutif bisa dan harus memberi jalan pada “orientasi keberlanjutan”. Artinya, sejauh mana perusahaan dapat mempertahankan dalam jangka panjang dan menjaga keseimbangan yang baik antara kinerja pelayanan publik, lingkungan dan komersial secara bersamaan. Akar intelektual dari paradigma baru ini dapat ditelusuri kembali ke kebangkitan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di tahun 1970-an dan 1980-an. Tetapi CSR telah dikritik oleh banyak orang karena hanya basa-basi, aktivitas tambahan kecil dari bisnis dan terlepas dari model bisnis inti bisnis. Tak heran jika banyak pakar yang mempertanyakan nilai CSR sebenarnya bagi masyarakat dan lingkungan.

Apa yang muncul kemudian adalah kewirausahaan sosial, bisnis untuk bagian bawah piramida, kewirausahaan berkelanjutan, dan gerakan ekonomi melingkar di pasca milenium. Pandemi COVID-19 memungkinkan kita untuk mengamati pola perilaku baru dalam dunia bisnis: kaburnya batas antara bisnis dan masyarakat dan khususnya integrasi yang lebih dalam dari orientasi nilai publik, lingkungan, dan komersial (PEC). Trilogi nilai PEC kemungkinan besar akan menjadi normal baru dan satu-satunya cara bagi bisnis, ekonomi global, dan planet ini untuk terus tumbuh secara berkelanjutan, dan untuk mengurangi pandemi di masa depan.

kreativitas juga menjadi salah satu variabel penting ketika pandandemi dalam uegiat bisnis saha membangun kembali bisnis. Jika para penggiat bisnis hanya melakukan kegiatan bisnis yang sama pada saat pandemi belum berlangsung, maka bisa dikatakan orang tersebut gagal sebagai pebisnis, mengapa? karena bisnis yang baik ialah yang selalu melakukan revolusi sehingga kita dipaksa memutar otak untuk lebih kreatif dan inovatif.